
Museum Daerah Kabupaten Gresik "Sunan Giri” kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat fungsi museum sebagai pusat pelestarian, penelitian, dan edukasi kebudayaan melalui penyelenggaraan Seminar Kajian Koleksi Museum yang digelar pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan dua koleksi penting museum, yaitu Guci dan Keris Kalamunyeng, sebagai objek kajian mendalam yang dilakukan selama satu bulan penuh.
Seminar ini dihadiri oleh para guru sejarah, budayawan, peneliti, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Gresik dan sekitarnya. Kehadiran para pemangku kepentingan di bidang kebudayaan ini menjadi bentuk sinergi penting dalam upaya memahami, merawat, dan mengembangkan pengetahuan mengenai warisan budaya lokal.
Keris Kalamunyeng: Kajian Filosofi, Sejarah, dan Nilai Budaya
Dalam sesi pertama, Keris Kalamunyeng dikaji oleh Kris Aji A.W., seorang pemerhati sekaligus peneliti budaya keris. Beliau memaparkan karakteristik fisik, gaya dapur, pamor, dan simbolisme yang melekat pada keris tersebut. Penjelasan juga mencakup konteks historis keberadaan Keris Kalamunyeng sebagai salah satu artefak yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan masyarakat Gresik.
Kris Aji A.W. menekankan bahwa keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional, tetapi juga merupakan media spiritual, simbol status sosial, dan wujud ekspresi seni yang sarat nilai filosofi. Melalui kajian komprehensif ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai makna budaya keris serta urgensi pelestariannya sebagai warisan takbenda bangsa.
Kajian Koleksi Guci: Nilai Historis, Fungsi, dan Jejak Perdagangan Masa Lalu
Sesi kedua menghadirkan Muhammad Ma’arif sebagai narasumber yang mengupas koleksi Guci milik Museum Sunan Giri. Kajian yang dilakukan selama satu bulan meliputi penelusuran jenis keramik, perkiraan usia, teknik pembuatan, hingga jejak historis yang menghubungkannya dengan mobilitas perdagangan dan budaya di masa lalu.
Dalam pemaparannya, Muhammad Ma’arif menjelaskan bahwa guci merupakan artefak penting dalam memahami dinamika kehidupan masyarakat, baik dalam aspek fungsi utilitarian maupun dalam konteks pertukaran budaya. Melalui analisis visual, morfologi, dan perbandingan data arkeologis, kajian ini menunjukkan bahwa koleksi Guci tersebut memiliki nilai historis yang relevan untuk memperkaya narasi budaya Gresik di masa lampau.
Menguatkan Fungsi Museum sebagai Ruang Riset dan Edukasi
Melalui seminar kajian koleksi ini, Museum Daerah Kabupaten Gresik “Sunan Giri” menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang riset ilmiah dan edukasi yang mampu mempertemukan akademisi, praktisi budaya, dan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama satu bulan ini membuktikan bahwa kajian koleksi museum memiliki nilai strategis dalam mendukung pemahaman publik terhadap sejarah lokal, sekaligus memperkaya pengetahuan ilmiah mengenai artefak budaya yang dimiliki museum.
Pihak museum berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya Gresik.



